Jomblo Bahagia? He to the llo. HELLO! - Ensikology

Jomblo Bahagia? He to the llo. HELLO!

Jomblo Bahagia? He to the llo. HELLO!

***

"Lo percaya sama istilah Jomblo Bahagia?" Tanya salah satu teman gue, Ito.

Gue gak langsung menjawab, gue berpikir sejenak. Setelah meyakinkan diri, lalu gue menjawab, "Percaya. Macem gue gitu."

Ito hanya memutar bola matanya malas ke gue. Lalu bangkit dan pergi meninggalkan gue sendirian di sini. Ruang kelas.

***

Kenapa sih lo pada bilang Jones-jones? Apa yang salah dengan Jomblo? Apakah kami para kaum jomblo itu begitu menjijikan di mata kalian?

He to the llo. HELLO! Percaya atau tidak, lo semua pernah menyandang status JOMBLO. Ya, termasuk lo yang ngatain jones-jones apalah. Jomblo itu masa-masa sebelum lo dapet pacar, dan masa-masa setelah lo putus dari pacar.

Bersiaplah kalian yang pacaran. Oops, sorry. Hehe.

Jomblo bahagia, huh? Gue percaya kok. Buktinya gue. Gak punya pacar ya gak masalah. Kemana-mana bebas, gak ada yang ngelarang. Deket sama siapa aja bebas, asalkan jangan sama suami orang. Bisa ditebas gue sama emak-emak se-RT.

***

Dan disinilah gue, berdiri di depan seorang pria bertubuh tegap. Pria dengan paras yang lumayan. Alis tebal, hidung mancung, rahang kokoh, dan tubuh berisi. Tak lain tak bukan adalah Fandi Jaya, teman semasa SMP gue yang dipertemukan lagi di SMA.

"Mau gak lo jadi pacar gue?"

Gue menatap matanya yang sedang melihat ke sepatunya, apa yang menarik? Dia ngajak jadian siapa sih? Sepatu?

"Ria?" Ucapnya, yang sekarang menatap gue.

Gue, Gloria Stefani. Umur gue 17 tahun, dan selama ini gue gak pernah pacaran. Yang gue tau pacaran itu enak. Dimana lo bisa manja-manjaan sama pacar sendiri, jalan bareng, makan bareng, tidur bareng. Yang terakhir itu tolong dicoret. Haram woy!

"Ini dare?"

"Gue serius." Dia menatap gue dengan tatapan elangnya. Duh.

Gue membalas tatapan matanya. Setelah mata gue melihat wajahnya. Ganteng. Cuma itu yang bisa gue pikirin sekarang.

"Ria?"

"Oke gue mau."

Dan sekarang gue resmi menyandang status TAKEN BY FANDI. Hingga akhirnya gue menyadari sesuatu, perasaan di hati gue itu lebih mengarah nyaman sebagai teman ke dia. Bodoh ya gue, nyia-nyiain cowok yang cakepnya gak ketolongan itu? Ya mau gimana lagi? Gue gak bisa dan gak tau perasaan gue sendiri itu kayak apa dan bagaimana.

"Lo sayang gak sih sama gue?" Tanyanya tiba-tiba pada suatu hari.

Saat itu, gue yang lagi minum aqua botol, langsung menjawab, "Sayang kok." Sebagai teman.

Dia hanya tersenyum. Sori, Fan.

***

"Gue mau kita putus."

"Kenapa?"

"Mau jawaban jujur atau bohong?" Gue bertanya.

"Jujur lah." Dia menatap mata gue dalam.

"Gue merasa nyaman cuma sebagai teman sama lo."

"Setelah yang kita lalui?" Padahal baru 7 hari.

Gue menatap matanya, lalu berkata, "Iya. Gue gak tau cinta itu apa. Gue kira nyaman sebagai teman sama aja sama perasaan cinta. Tapi itu semua beda, Fan."

Ia hanya melongo tak percaya, "Lo beneran mau putus?"

"Iya."

***

Dan disinilah gue sekarang. Menatap langit senja, dengan wujud matahari yang seperti telur asin. Meratapi status jomblo? Gak. Menyesal udah putusin Fandi? Ngapain. Musuhan sama mantan a.k.a. Fandi? Gak, gue masih temenan sama dia. Sahabatan malah.

Sekarang yang gue tau adalah, jadi jomblo itu lebih menyenangkan.

Pertama, lo bebas kemana aja kapanpun dan sama siapapun, paling yang ngelarang cuma nyokap lo atau bokap lo.

Kedua, lo gak harus lapor 1x24 jam ke pacar lo itu. Itu pacar atau Security?

Ketiga, lo bebas berteman dan berkarya. Sekarang banyak kan, pacar-pacar yang ngelarang pacarnya temenan sama orang lain. Lah situ siapa? Pacar. Oke, tapi orang kan tetap harus bersosialisasi, biar bisa negosiasi dengan kehidupan sehari-hari. Apaan sih?

Yang pasti, gue menjadi jomblo yang bahagia. Meskipun terkadang, yah, masih berharap aja ada yang peluk gue dari belakang. Justin Bieber gitu? Hehe.

Cerita di novel-novel gak berlaku-sama sekali-di kehidupan nyata. Gue kadang iri, sama mereka yang bisa happy ending. Dapet pacar yang perfect. Ngelaluin hari-hari bersama. Peluk-pelukan. Suap-suapan. Rangkul-rangkulan. Gandengan tangan. Duh, baper kan.

***

"Balik bareng gak, Ri?" Tanya Fandi.

"Ayo."

Belum sampai 5 langkah, di depan gue berdiri seseorang yang tak kalah gagah dengan Fandi. Dialah, Jose Trisan, teman sekelasnya Fandi. FYI, gue sama Fandi beda kelas.

"Ria, gue mau lo jadi pacar gue." Ucapnya.

Ini anak pede atau gak punya urat malu? "Itu pernyataan yah? Gue gak bisa kasih jawaban dong?" Jawab gue.

Dia hanya tersenyum penuh kemenangan. Serasa dapet nomor togel gitu deh.

"Oke, sekarang lo pacar gue, Jose." Ucap gue. "Dan sekarang gue minta putus, gue lebih bahagia menyendiri. Gak mau pacaran! Duluan yah. Bye, Mantan." Gue pun dadah-dadah sama Jose yang masih berdiri mematung disana.

"Lo gila." Ucap Fandi saat sudah mendekati tempat parkir.

"Beginilah gue, Fan. Perlu gue umumin? Kalau jadi Jomblo itu lebih bahagia dibanding Taken."

"Alibi aja lo."

"Lo gak liat si Tessa? Kerjaannya apa? Nangis menye-menye gitu, gara-gara Riko doang, pacarnya. Katanya pacaran, cinta, sayang, kok saling menyakiti?" Gue dan Fandi sampai di parkiran sekolah, lalu menuju mobil Fandi.

"Mungkin ada alasan lain." Lalu Fandi membuka pintu mobilnya dan masuk setelah gue terlebih dahulu masuk.

"Gak perlu ada alasan untuk menyakiti. Kalau gak sayang, tinggal putus aja susah banget?"

"Pikiran lo terlalu singkat, Ri," ucap Fandi sambil menjalankan mobilnya keluar parkiran.

"Gak usah mikir yang juah-jauh, Fandiku sayang. Kebanyakan mikir menyebabkan menipisnya rambut."

Fandi hanya menatap gue iba, "Kalau suatu saat gue ajak lo balikan gimana?"

"Lihat aja nanti."

"Lo terlalu gak peduli sama lingkungan, Ria." Ucapnya. Gue hanya menggendikkan bahu.

Yeah, beginilah gue adanya. Gue gak peduli sama keadaan di luar sana. Gue gak peduli sama mereka yang tanding banyak-banyakan jumlah mantan. Buat apa sih? Mending lo tanding ayam, lumayan, dapet fulus. Loh?

Gue bukan mereka, yang rela nangis darah demi gak putus sama pacarnya. Padahal jelas-jelas pacarnya selingkuh depan mata. Ck! Bodoh!

Gue cuma Gloria Stefani, si Jomblo Bahagia. Dan mungkin, cepat atau lambat, gue akan menemukan seseorang yang bisa mematahkan keyakinan gue. Kalau gak selamanya jadi jomblo itu bahagia. Dan untuk sekarang, hiduplah gue menjadi seorang jomblo.

***

"Mblo, kita itu bukan sendal jepit. Yang kalau gak ada pasangannya, gak akan berguna." - Satriaddin Maharingga (Arie Kriting, Comica)

Dikutip dari : Catatan Harian Jomblo
Sebuah cerita dari : verafeilien
#Cerpen #Hubungan Cinta

Berikan masukan, ajukan pertanyaan, atau ucapkan selamat untuk "Jomblo Bahagia? He to the llo. HELLO!"

Emoticon
Urutan

Posting Komentar

Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Anda dan 0 lainnya
Suka
Jadilah yg pertama menyukai